Saturday, April 14, 2007

Liputan Semarang

Jalan2 ke semarang euy


Menara Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid ini sudah lebih dari setahun yang lalu dibuka dan telah digunakan untuk shalat Idul Fitri 1024 H yang lalu, walau demikian hingga sampai saat ini proses pembangunannya masih terus berlangsung. Pada halaman depannya saat ini sedang dipasang tiang-tiang raksasa untuk payung masjid. Menaranya juga masih dalam proses penyempurnaan. Menara Masjid Agung Jateng ini setinggi 99 meter atau equal dengan bangunan berlantai 19. Rencananya di lantai 2 menara itu akan dipakai sebagai perpustakaan untuk literatur Islam, sedangkan di lantai yang lain lagi akan dipakai sebagai musium kebudayaan Islam. Kita bisa naik sampai ke puncak menara dengan naik lift dan membayar Rp.2000,-. Sesampainya diatas pemandangannya benar-benar memukau, semakin menyadarkan kita akan keagungan-Nya. Suasananya segar, anginnya gila-gilaan, lain sekali ketika di dibawah yang panas ketika siang. Di puncak menara tersebut juga terdapat teropong-teropong pandang yang canggih. Kota Semarang bisa terlihat dari sana, sampai kapal yang hendak berlabuh di pelabuhan pun terlihat jelas. Untuk menggunakan teropong itu kita harus membayar Rp.1000,- untuk 1,5 menit pemakaian. Pokoknya kalau berkunjung ke Masjid Agung, sempatkanlah untuk naik ke menaranya ya.




Jalan2 Ke Klenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong, Semarang

Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana China bernama Zheng Ho (Cheng Ho) atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, didalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Menurut cerita, Laksamana China bernama Zheng Ho sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa, Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. karena ia tertarik dan merasa tenang ditempat itu, ia memutuskan untuk sementara waktu beristirahat dan menetap ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Konon, setelah Zheng ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng Ho memberikan pelajaran bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng Ho memberikan pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur - nenek moyang.

Sehingga setalah Zheng Ho meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng Ho guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.

Siapakah Zheng Ho?
Dalam buku Amen Budiman 'Semarang Riwayatmu Dulu I' hal.10 ditulis bahwa Zheng Ho adalah seorang Islam, dilahirkan di daerah K'un Yang di kawasan Yunnan tengah. Dari sebuah batu bersurat yeng terukir diatas makam ayahnya yang berada didaerah itu dapat diketahui dahwa ayahnya adalah seorang Ha-tche, sedang nam keluarganya adalah Ma. Seperti juga ayahnya, kakeknya juga disebut Ha-tche. Adapun nama Ha-tche tidak lain adalah merupakan salinan dari kata Haji. Dengan demikian jelas sekali, bahwa baik ayah maupun kakek Zheng Ho adalah orang Islam dan Telah menunaikan rukun Islam yang kelima.

Menurut Ir. Setiawan dalam bukunya 'Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang', dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid.

Zheng Ho mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng Ho lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam. Karenanya Zheng Ho sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.

Meskipun diatas disebut bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya.

Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.




Gajah Blenduk

Hingga bentuk yang sekarang, Gereja Blenduk beberapa kali mengalami perubahan. Awalnya, Gereja yang dibangun pada tahun 1753 berbentuk rumah panggung Jawa, dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total. Tahun 1894, dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan bentuknya seperti sekarang.

No comments: